Alkisah,
ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria (Rong) berasal dari
keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota tersebut. Sedangkan
sang wanita (Chiu
Hsia)
adalah seorang yatim piatu, hidup serba kekurangan, tetapi cantik, lemah
lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah yang membuat sang pria jatuh hati.
Chiu
Hsia
hamil di luar nikah. Rong lalu mengajaknya
menikah, dengan membawa Chiu
Hsia
ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua Rong tidak menyukai Chiu Hsia. Sebagai orang yang
terpandang di kota tersebut, latar belakang Chiu Hsia akan merusak reputasi keluarga.
Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan untuk Rong. Rong berusaha menyakinkan
orang tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi
dia.
Chiu
Hsia
merasa tak berdaya, tetapi Rong
menyakinkan Chiu
Hsia
bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Rong terus berargumen dengan orang tuanya,
bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya
selama hidupnya (di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang
tuanya).
Sebulan
telah berlalu, Rong gagal untuk membujuk
orang tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena
gagal membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan Chiu Hsia, yang menurut mereka
akan sangat merugikan masa depannya.
Rong akhirnya menetapkan
pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang
kekasih. Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini
diketahui oleh orang tua Rong. Maka ketika saatnya
tiba, sang ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para
bawahan di rumahnya yang besar.
Sebagai
gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang
kekasih tersebut untuk melarikan diri. Chiu Hsia sangat terkejut dengan kedatangan ayah
dan ibu sang pria… Mereka kemudian memohon pengertian dari Chiu Hsia, agar meninggalkan
anak mereka satu-satunya.
Menurut
mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka
hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan
tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis yang akan
diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara perlahan2.
Mereka
bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan agar wanita
tersebut meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan anaknya lagi, dan
menggugurkan kandungannya. Uang tersebut dapat digunakan untuk membiayai
hidupnya di tempat lain.
Chiu
Hsia
menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa perbedaan status
sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan bagi kekasihnya.
Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk menerima
uang tersebut. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia sepenuhnya
sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit?
Ibu
Rong kembali memohon kepada Chiu Hsia untuk meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan
bahwa ia memilih berpisah dengan Rong. Ibu Rong kuatir anaknya akan terus
mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. ‘Walaupun ia
kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua,’ kata sang ibu.
Dengan
berat hati, Chiu
Hsia
menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi
meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang
pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa
mereka akan selalu bersama dalam menghadapi penolakan-penolakan akibat
perbedaan status sosial mereka. Ia tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan
memutuskan untuk berpisah.
Tetesan
air mata Chiu
Hsia
tampak membasahi surat tersebut.
Sang
wanita yang malang tersebut tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara
moral dan cintanya. Chiu
Hsia
segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih
terpencil. Disana, ia bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.
Tiga
tahun telah berlalu. Ternyata Chiu Hsia telah menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki-laki
bernama Chian. Sang ibu bekerja keras siang dan malam, untuk membiayai
kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah industri rumah
tangga, malamnya, ia menyuci pakaian-pakaian tetangga dan menyulam sesuai
dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan semua pekerjaan ini sambil
menggendong anak di punggungnya.
Walaupun
ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak memungkinkan,
karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi sang ibu tidak
pernah mengeluh dengan pekerjaannya…
Di
usia tiga tahun, suatu saat, Chian tiba2 sakit keras. Demamnya sangat tinggi.
Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tersebut harus menginap di rumah
sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis seluruh
tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun belum cukup. Ibu
tersebut akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada siapapun yang bermurah
hati untuk memberikan pinjaman.
Saat
diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup ramuan, untuk
mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tersebut terdiri dari obat-obat herbal
dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu hanya mampu membeli
obat2 herbal tersebut, ia tidak punya uang sepeserpun lagi untuk membeli
daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin, karena ia telah berutang
kepada semua orang yang ia kenal, dan belum terbayar.
Ketika
di rumah, sang ibu menangis.. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk
mendapatkan daging. Toko daging di desa tersebut telah menolak
permintaannya,untuk bayar di akhir bulan saat gajian.
Diantara
tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol yang ada di rumahnya,
sebilah pisau dapur, dan sepotong kain. Setelah pisau dapur dibersihkan dengan
alkohol, sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari pahanya. Agar tidak
membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong
kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri,
sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat..
Hujan
lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan kesakitan sang ibu tidak
terdengar oleh para tetangga, terutama oleh anaknya sendiri. Tampaknya langit
juga tersentuh dengan pengorbanan yang sedang dilakukan oleh sang ibu …………
Enam
tahun telah berlalu, Chian tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, cerdas, dan
berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya… Di hari minggu, mereka sering
pergi ke taman di desa tersebut, bermain bersama, dan bersama-sama menyanyikan
lagu ‘Shi Shang Zhi You Mama Hao'(terjemahannya ‘Di Dunia ini, hanya ibu
seorang yang baik’).
Chian
juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga toko, karena ia
sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.
Hari-hari
mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Chian terkadang memaksa
ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam hari. Ia tahu ibunya
masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia
memang seorang anak yang cerdas.
Ia
juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat membelikan
sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini. Ibunya pernah
mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah pemilik toko
menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak terlalu mewah, tetapi
bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang perlu
dibiayai.
Chian
segera pergi ke toko tersebut, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada
kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan tersebut, karena ia akan
membelinya bulan depan. ‘Apakah kamu punya uang?’ tanya sang pemilik toko.
‘Tidak sekarang, nanti saya akan punya’, kata sang anak dengan serius.
Ternyata,
bulan depan Chian benar-benar muncul untuk membeli jam tangan tersebut. Sang
kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main-main.
Ketika
menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya ‘Dari mana kamu mendapatkan uang itu?
Bukan mencuri kan?’ ‘Saya tidak mencuri, kakek.
Hari
ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang pergi ke
sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke
rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku
sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini.
Ia akan marah’ kata sang anak. Sang pemilik toko tampak kagum pada anak
tersebut.
Seperti
biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Chian segera memberikan
ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan tersebut. Sang ibu terkejut
bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam tangan ini memang adalah
impiannya. Tetapi sang ibu tiba-tiba tersadar, dari mana uang untuk membeli jam
tersebut. Chian tutup mulut, tidak mau menjawab.
‘Apakah
kamu mencuri, Nak?’ Chian diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui
bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.
Setelah
ditanya berkali-kali tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa Chian telah
mencuri. ‘Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah
mengajari kamu tentang hal ini?’ kata sang ibu.
Lalu
ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang pada anaknya,
ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Chian menangis, sedangkan air mata sang
ibu mengalir keluar. Hatinya begitu perih, karena ia sedang memukul belahan
hatinya. Tetapi ia harus melakukannya, demi kebaikan anaknya.
Suara
tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tersebut
heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya. ‘Ia sebenarnya
anak yang baik’, kata salah satu tetangganya. Kebetulan sekali, sang pemilik
toko sedang berkunjung ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan
familinya.
Ketika
ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui
persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi tiba-tiba
sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan menceritakan yang
sebenarnya pada ibunya.
‘Nak,
ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak boleh
menyembunyikan sesuatu dari ibunya’. Chian mengikuti nasehat kakek itu. Maka
kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak tiba tiba muncul di tokonya
sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tersebut, dan sebulan
kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari
ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana sang anak
berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak jajan di sekolah selama
sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.
Tampak
sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan hal tersebut, begitu pula
dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak kesayangannya, keduanya
menangis dengan tersedu-sedu.’Maafkan saya, Nak.’
‘Tidak
Bu, saya yang bersalah’
Sementara
itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah, tetapi istrinya mandul. Mereka
tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini, karena tidak akan ada
yang mewarisi usaha mereka kelak.
Ketika
sang ibu dan Chian berjalan-jalan ke kota, dalam sebuah kesempatan, mereka
bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru menyadari bahwa sebenarnya
ia sudah punya anak dari darah dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung
ke rumahnya, bersedia menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu
menolak. Kami bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu.
Berita
ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat
cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.
Di
pertengahan tahun, penyakit Chian kembali kambuh. Dokter mengatakan bahwa
penyakit Chian butuh operasi dan perawatan yang konsisten. Kalau kambuh lagi,
akan membahayakan jiwanya. Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan
sebelumnya. Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.
Sang
ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang tepat.
Satu-satunya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang ayah, karena
sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.
Maka
di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak Chian berkeliling kota,
bermain-main di taman kesukaan mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan lagu
‘Shi Shang Zhi You Mama Hao”‘, lagu kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu
melupakan semua penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak.
Sepulang
ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada Chian. Chian menolak untuk tinggal
bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu. ‘Tetapi ibu tidak mampu
membiayai perawatan kamu, Nak’ kata ibu. ‘Tidak apa-apa Bu, saya tidak perlu
dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar
nanti, saya akan cari banyak uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu.
Nanti, ibu tidak perlu bekerja lagi, Bu’, kata sang anak. Tetapi ibu memaksa
akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa
kambuh setiap saat.
Disana
ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang melihat anak
imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, Chian meronta-ronta ingin ikut
pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan kesukaan Chian, yang tidak
pernah ia peroleh saat bersama ibunya, Chian menolak. ‘Saya ingin Ibu, saya
tidak mau mainan itu’, teriak Chian dengan nada yang polos. Dengan hati sedih
dan menangis, sang ibu berkata ‘Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah
di sini. Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu.’ ‘Tidak, aku tidak mau
mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya? Ibu
sekarang tidak mau saya lagi’, Chian mulai menangis.
Bujukan
demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tersebut tidak didengarkan Chian.
Chian menangis tersedu-sedu ‘Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu’.
Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan ‘Benar, ibu tidak sayang
kamu lagi. Tinggallah disini’, ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah
tersebut. Tampak Chian meronta-ronta dengan ledakan tangis yang memilukan.
Di
rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat hati, ia
telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk anaknya, tetapi
mereka berjanji akan merawat anaknya dengan baik. Diantara isak tangisnya, ia
tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu-satunya alasan
untuk hidup, anaknya tercinta.
Kemudian
ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk memotong urat nadinya. Tetapi
saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan
dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan
dengan baik. Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya juga
Setahun
berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan kerja yang lebih
baik lagi. Chian telah sehat, walaupun tetap menjalani perawatan medis secara
rutin setiap bulan.
Seperti
biasa, Chian ingat akan hari ulang tahun ibunya.
Uang
pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya.
Maka, pada hari tersebut, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah, ia
segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan waktu
beberapa jam. Chian telah mempersiapkan setangkai bunga, sepucuk surat yang
menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah kartu ucapan selamat ulang
tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia akan memberikan semuanya untuk
ibu.
Chian
berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika
sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan
ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi. Chian tidak
tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tersebut, menangis ‘Ibu
benar-benar tidak menginginkan saya lagi.’
Sementara
itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika Chian sudah terlambat pulang ke
rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan semuanya sudah pulang.
Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.
Mereka
panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi pun
dihubungi untuk melaporkan anak hilang.
Ketika
sang ibu sedang berpikir keras, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Hari ini adalah
hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang
ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah tersebut.
Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai bunga, nilai
ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu tidak mampu menahan
tangisannya, saat membaca tulisan-tulisan imut anaknya dalam surat itu.
Hari
mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tersebut, tanpa mendapatkan
petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu membakar dupa,
berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia memohon agar bisa
menemukan anaknya.
Seperti
mendapat petunjuk, sang ibu tiba-tiba ingat bahwa ia dan anaknya pernah pergi
ke sebuah kuil Kuan Im di desa tersebut. Ibunya pernah berkata, bahwa bila kamu
memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih. Dewi Kuan
Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.
Ibunya
memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tersebut untuk memohon agar
bisa bertemu dengan dirinya.
Benar
saja, ternyata sang anak berada di sana . Tetapi ia pingsan, demamnya tinggi
sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit.
Saat menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling2 jatuh
ke bawah.
Sepuluh
tahun sudah berlalu. Kini Chian sudah memasuki bangku kuliah. Ia sering beradu
mulut dengan ayah, mengenai persoalan ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya
tidak pernah ditemukan. Chian telah banyak menghabiskan uang untuk mencari
ibunya kemana2, tetapi hasilnya nihil.
Siang
itu, seperti biasa sehabis kuliah, Chian berjalan bersama dengan teman
wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di persimpangan
sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tersebut
terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu
sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit.
Didorong
rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk
menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil mengacungkan
kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan lemah ‘Dimanakah anakku?
Apakah kalian melihat anakku?’
Chian
merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera menyanyikan lagu ‘Shi
Shang Zhi You Mama Hau’ dengan suara perlahan, tak disangka sang pengemis tua
ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua menyanyi bersama. Ia
segera mengenal suara ibunya yang selalu menyanyikan lagu tersebut saat ia
kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua itu dan berteriak dengan haru
‘Ibu? Ini saya ibu’.
Sang
pengemis tua itu terkejut, ia meraba-raba muka Chian, lalu bertanya, ‘Apakah
kamu ??.. Chian?’ ‘Benar bu, saya adalah Chian, anak ibu?’.
Keduanya
pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi bumi …………… .
Karena
jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan,
tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli
dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila… T_T
I
love you Mom forever………in my deep heart…. I always missing you Mom……
No comments:
Post a Comment