Monday, 23 March 2015

Kisah Biola dan Senarnya

Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal di abad 19, memainkan konser untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi orkestra penuh.
Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus...
Keringat dingin mulai membasahi dahinya tapi dia meneruskan memainkan lagunya.
Para penonton mulai berisik dan agak ribut, sambil menjukkan rasa kecewa terhadap pemain biola terkenal itu.
Kejadian yang sangat mengejutkan senar biolanya yang lain pun putus satu persatu, sehingga suasana menjadi gaduh dan mulai terdengar suara cemohan. Paganini mulai bingung, sebab pada akhirnya ia bermain hanya dengan menggunakan satu senar saja.
Tetapi dia tetap TERUS bermain.
Tiba-tiba susana menjadi sunyi.
Diam...
Tak satupun yang bicara.
Para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri dan berteriak, "Hebat, hebat."
Para penonton merasa takjub, sebab hanya dengan satu senar saja, Paganini mampu menampilkan suara biola yang begitu merdu.
Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh mereka untuk duduk. Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu senar.
Suasana menjadi tegang...
Seakan semua menahan nafas...
Sunyi....
Paganini memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada dirigen orkestra untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.
Dia menaruh biolanya di dagunya..
dan memulai memainkan bagian akhir dari lagunya...
Wow.... solo biola sangat indah terdengar, simphony menyentak kesunyian...
Sangat harmonis dengan orkestra...
Penonton sangat terkejut dan kagum pada kejadian ini.
Hiruk pikuk tepuk tangan spontan memenuhi ruangan... semua berdiri... tanda kagum.
Beberapa bakan terlihat menyapu pipi yg basah dengan air mata kekaguman.
Siapapun tak akan melupakan peristiwa ajaib itu. Perjuangan dan usaha telah mengubah kekurangan menjadi kesempurnaan; cemoohan menjadi pujian.
MAKNA:
Hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekuatiran, kekecewaan dan semua hal yang tidak baik. Secara jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu banyak waktu berkonsentrasi pada senar kita yang putus dan segala sesuatu yang kita tidak dapat ubah.
(Sumber: NN --- kutipan)
------------------------------
Saudara
Apakah kita masih memikirkan senar-senar kehidupan kita yang putus saat ini?
Apakah senar terakhir nadanya tidak indah lagi?
Jika demikian, penulis ingin menganjurkan jangan melihat ke belakang, majulah terus, mainkan senar satu-satunya itu. Mainkanlah itu dengan indahnya.
Jadi janganlah BERHENTI...
teruslah BERMAIN...
Bukan soal berapa senar yang putus...
Namun seberapa keinginan-mu memanfaatkan sisa senar yang ada.
SEBAB Tuhan dapat menolongmu walau hanya tersisa satu senar sekalipun.
"Dalam segala sesuatu Dia dapat turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan" (Rm.8:28). AMIN

Friday, 13 March 2015

Kapal yang Karam.


Satu-satunya korban selamat dari sebuah kapal yang karam terdampar di suatu pulau yang tak berpenghuni. Ia berdoa dengan tekun kepada Tuhan supaya menyelamatkannya. Setiap hari pula ia mengamati langit untuk mencari tanda-tanda bantuan, tapi tidak terlihat apa-apa di atas sana.

Merasa lelah, ia akhirnya putuskan untuk membangun sebuah gubuk kecil dari kayu apung untuk melindunginya dari cuaca. Dengan pengetahuan dan sisa-sisa barang yang ada, pria itu juga berhasil membuat api unggun kecil untuk menghalau hewan buas. Tapi suatu hari, setelah kembali dari mencari-cari makanan, ia mendapati gubuk kecilnya sudah terlalap api, dengan asapnya bergulung-gulung naik ke langit. Hal terburuk telah terjadi, segala sesuatunya lenyap begitu saja.

Pria ini begitu sedih sekaligus marah. "Betapa teganya Kau padaku!!" teriaknya. Tapi, esok paginya ia dibangunkan oleh suara mesin sebuah kapal yang bergerak mendekati pulau. Ternyata kapal itu hendak menolongnya.

"Bagaimana Anda bisa tahu saya ada di sini?" tanya pria yang sudah tampak lelah itu kepada penolongnya.
"Kami melihat sinyal asap apimu," jawab mereka. "Sebuah sinyal yang sangat kuat dan jelas."
Sahabat luar biasa, seperti halnya pria di kisah ini, kita sering kali mudah berkecil hati, sedih, marah, dan kecewa bila segala sesuatunya berjalan buruk, atau tidak sesuai harapan dan rencana. Tapi kita tak perlu putus asa sekalipun di tengah penderitaan dan kesengsaraan, atau berlarut-larut meratapi nasib, karena sesungguhnya Sang Maha Pencipta sedang bekerja dalam hidup kita. Ingatlah, bila di kemudian hari "gubuk kecil kita" sedang terlalap api, mungkin itu hanyalah sinyal asap api akan kemurahan hati-Nya.
GBU