luangkan waktu sejenak 1 menit, kau akan mendapatkan manfaat yg besar sekali...
Seorang sedang mendaki gunung bersalju. semakin ia mendaki, ia merasa kakinya makin lama semakin beku.
Ia ingin sekali berhenti dan berbaring di salju. Namun, ia sadar jika ia
berhenti mendaki dlm kondisi seperti itu maka itu berarti kematian.
Sementara ia berjuang utk terus berjalan, kaki nya terantuk sebuah gundukan, ternyata, gundukan itu adalah tubuh manusia.
Ia lantas membalik org itu, ternyata dia masih hidup, dgn sisa tenaga Ia
mengangkat org tsb dan menaruhnya di punggungnya dan kembali
melanjutkan perjalanan.
Tak lama kemudian ia mulai berkeringat dan merasakan aliran darahnya
mulai mengalir lebih lancar, demikian pula dgn org yg ditolongnya, ia
telah sadar dari pingsan nya dan mengucapkan terimakasih kpd sang
pendaki yg telah menyelamatkannya.
"saya juga berterima-kasih kpd Anda, Sebenarnya ketika saya menolong
Anda tadi, saya juga telah menyelamatkan nyawa saya sendiri".
Sebenarnya, ketika kita menolong org lain, kita juga sedang menolong diri kita sendiri.
Pertanyaannya adalah; brp banyak dari kita yg mau melakukannya?
Brp banyak dari kita yg mau menolong sesama ?
umumnya kita akan berpikir "saya saja sedang susah, knp hrs pusing² menolong dan memperhatikan org lain?"
padahal, ketika kita menghibur teman, kita sebenarnya sedang menguatkan diri sendiri.
Ketika kita berkorban waktu,tenaga, dan uang, kita pun sedang memberkati diri kita sendiri krn org yg menabur pasti akan menuai.
Jadi, tebarkan hal² yg positif dan bersiaplah utk meraih hal² yang terbaik
Friday, 19 September 2014
Wednesday, 17 September 2014
bingung memilih....
bingung memilih....
aku harus gimana....
ada banyak pilihan...
dan ada banyak hal yang harus ku kerjakan
aku harus gimana...
kadang, saat bingung
akhirnya aku terdiam ....
terpaku
hanya diam
diam dan diam..........
aku harus gimana....
ada banyak pilihan...
dan ada banyak hal yang harus ku kerjakan
aku harus gimana...
kadang, saat bingung
akhirnya aku terdiam ....
terpaku
hanya diam
diam dan diam..........
Wednesday, 3 September 2014
KISAH TUKANG SEPATU YANG SELALU INGIN TAHU
Bagi orang asing yang lewat, toko itu tampak seperti toko sepatu biasa yang
terdapat di Inggris. Di depan toko itu tergantung sebuah papan dengan tulisan,
"Jual Beli Sepatu Bekas". Orang-orang di desa Paulers Pury tahu bahwa
pekerja muda di toko itu bukan seorang tukang sepatu biasa.
Mereka memanggilnya "Columbus" karena ia sering menceritakan tentang Columbus, penemu yang terkenal itu. Mereka menertawakan dia apabila ia mempelajari bahasa-bahasa asing pada malam hari. "Mengapa kamu perlu mempelajari demikian banyak bahasa, Columbus?" ejek mereka.
Pemuda itu menjawab dengan sabar, "Aku ingin memahami orang-orang bangsa lain." William Carey tergerak hatinya mendengar laporan-laporan para penjelajah yang telah mengikuti Columbus. Ia mempunyai sebuah peta di dinding dan sementara informasi baru diperolehnya, ia dengan teliti mengklasifikasikannya di peta.
Ia membaca setiap buku yang dapat diperolehnya, buku-buku tentang khotbah-khotbah lama pun dibacanya. Pada suatu hari, ia membaca buku tentang pendeta yang terkenal, Jeremy Taylor. Ia menjadi gelisah dan membicarakannya dengan seorang pekerja, temannya, yang dikenalnya sebagai seorang pengunjung gereja yang setia.
"Apa artinya hal dilahirkan kembali ini?" tanya Carey. "Saya dibaptis menjadi anggota gereja Inggris, tetapi saya belum pernah mendengar hal ini."
Temannya, William Warr, menjawab dengan cepat, "Dibaptis saja tidak cukup. Sekarang, datanglah ke gereja 'Pelarian', gereja saya. Pendeta saya akan mengatakan kepadamu bagaimana caranya untuk merasakan yakin bahwa kamu telah berdamai dengan Allah."
"Akan tetapi, pelarian-pelarian itu adalah orang-orang yang menyimpang dari agamanya," bantah Carey.
"Mereka mungkin disebut sebagai orang-orang yang menyimpang dari agama, Carey," William Warr membantah, "tetapi mereka berkhotbah dari Alkitab. Itulah yang penting."
Carey berbantah-bantah dengan temannya selama beberapa bulan sebelum akhirnya ia menyerah dan menghadiri suatu kebaktian di Gereja Pelarian itu. Setelah pergi beberapa kali, ia harus mengakui bahwa Pelarian-Pelarian itu sungguh berkhotbah dari Alkitab. "Aku akan pergi ke gereja tiga kali pada hari Minggu dan menghentikan dusta dan sumpah serapahku," ia memutuskan.
Kemudian, negeri Inggris tiba-tiba terlibat perang dengan Perancis dan Spanyol. Armada musuh bergerak memasuki Selat Inggris dan mengancam akan menyerbu. Raja Inggris, George, menyatakan bahwa tanggal 10 Februari 1779 merupakan hari nasional untuk berpuasa dan berdoa. Pada hari itu, Carey ikut bersama para Pelarian dalam suatu kebaktian istimewa.
Pendeta Thomas Chater memimpin kelompok itu dalam doa, lalu ia berbicara tentang celaan yang mereka alami jika menjadi pengikut Kristus. Carey melaporkan kemudian, "Aku merasa hancur dan tak berdaya. Aku ingin mengikut Kristus."
Lalu, ia sungguh menjadi pengikut Kristus! Setelah pengalaman kelahiran barunya, Carey tidak jemu-jemunya belajar mengenai Alkitab. Ia mulai mempelajari bahasa Yunani dan bahasa Ibrani, dan setiap renungan pagi, ia membaca sebagian dari Alkitab dalam tiga bahasa - Ibrani, Yunani, dan Latin.
Setelah majikannya meninggal, Carey membuka toko sepatu miliknya sendiri. Ia menikah dan membuka sebuah sekolah pada malam hari bagi anak-anak di desanya. Ia menggunakan bola dunia yang terbuat dari kulit kasar untuk memperlihatkan kepada anak-anak, tempat-tempat yang telah ditempuh para penjelajah seperti Columbus itu; dan sering kali, setelah murid-muridnya pulang, ia duduk membaca Alkitab sampai jauh malam sambil merenungkan berjuta-juta orang kafir di negeri-negeri lain. Ia menulis petanya dengan segala yang diketahuinya tentang agama tiap-tiap bangsa di dunia.
Pada tanggal 10 Agustus tahun 1786, tukang sepatu yang bersemangat itu ditahbiskan menjadi pendeta Baptis. Beberapa minggu setelah itu, ia menghadiri suatu pertemuan pendeta-pendeta di Northampton. Salah seorang dari pendeta-pendeta yang tua mengusulkan agar seseorang menyebutkan suatu pokok pembicaraan untuk diskusi umum. Carey bangkit serta mengemukakan masalah tentang "Apakah Amanat Agung itu berlaku bagi kita sekarang ini untuk pergi dan mengajar segala bangsa itu atau tidak?"
Pendeta-pendeta itu menjadi terdiam. Lalu, ketua pertemuan melihat kepada Carey dengan pedas. "Duduklah, anak muda. Apabila Allah berkenan memenangkan orang-orang kafir, Ia akan melakukannya tanpa pertolonganmu atau pertolonganku." Namun, Carey tidak mudah disuruh diam begitu saja.
Pada tanggal 30 Mei tahun 1792, ia menyampaikan sebuah khotbah yang bersejarah pada Persekutuan Pendeta-Pendeta Baptis di Notingham. Ia mengajukan dua buah pertanyaan yang patut dikenang: "Mengharapkan perkara-perkara yang besar dari Allah. Mengusahakan perkara-perkara yang besar bagi Allah." Pagi berikutnya, ia mengusulkan untuk membentuk suatu perkumpulan pengabar Injil. Empat bulan kemudian, perkumpulan itu terbentuk, Carey dan keluarganya berlayar ke India sebagai utusan Injil dari perkumpulan yang baru itu.
Di sana, Carey yang gigih itu mengikuti karier utusan Injil yang lama dan termasyur itu, yang sering kali dirusak oleh tragedi. Istrinya dan seorang utusan Injil, temannya, menjadi terganggu kesehatan jiwanya dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Utusan-utusan Injil yang lain meninggal karena terkena penyakit yang biasa berjangkit di Asia. Setelah tujuh tahun lamanya di sana, barulah Carey membaptiskan orang yang bertobat pertama kali.
Namun, selama kariernya sebagai utusan Injil, tukang sepatu yang percaya dalam mengharapkan perkara-perkara yang besar dari Allah dan mengusahakan hal-hal yang besar untuk Allah itu menerjemahkan seluruh Alkitab ke dalam empat bahasa terkemuka di India, serta menyebabkan Alkitab dapat dibaca oleh tiga ratus juta orang dalam bahasa mereka sendiri. Selain itu, ia adalah tokoh utama dalam pendirian 126 sekolah misi.
Bahkan, yang lebih penting yaitu bahwa ia mencetuskan gerakan-gerakan utusan Injil di Inggris dan Amerika. Kini, Carey dengan tepat disebut sebagai bapak serta pelopor gerakan utusan Injil modern.
Pada saat meninggal, perintis utusan Injil yang besar itu berbisik, "Kalau saya sudah tiada, jangan katakan apa-apa tentang Dr. Carey. Berbicaralah tentang Juru Selamat."
Mereka memanggilnya "Columbus" karena ia sering menceritakan tentang Columbus, penemu yang terkenal itu. Mereka menertawakan dia apabila ia mempelajari bahasa-bahasa asing pada malam hari. "Mengapa kamu perlu mempelajari demikian banyak bahasa, Columbus?" ejek mereka.
Pemuda itu menjawab dengan sabar, "Aku ingin memahami orang-orang bangsa lain." William Carey tergerak hatinya mendengar laporan-laporan para penjelajah yang telah mengikuti Columbus. Ia mempunyai sebuah peta di dinding dan sementara informasi baru diperolehnya, ia dengan teliti mengklasifikasikannya di peta.
Ia membaca setiap buku yang dapat diperolehnya, buku-buku tentang khotbah-khotbah lama pun dibacanya. Pada suatu hari, ia membaca buku tentang pendeta yang terkenal, Jeremy Taylor. Ia menjadi gelisah dan membicarakannya dengan seorang pekerja, temannya, yang dikenalnya sebagai seorang pengunjung gereja yang setia.
"Apa artinya hal dilahirkan kembali ini?" tanya Carey. "Saya dibaptis menjadi anggota gereja Inggris, tetapi saya belum pernah mendengar hal ini."
Temannya, William Warr, menjawab dengan cepat, "Dibaptis saja tidak cukup. Sekarang, datanglah ke gereja 'Pelarian', gereja saya. Pendeta saya akan mengatakan kepadamu bagaimana caranya untuk merasakan yakin bahwa kamu telah berdamai dengan Allah."
"Akan tetapi, pelarian-pelarian itu adalah orang-orang yang menyimpang dari agamanya," bantah Carey.
"Mereka mungkin disebut sebagai orang-orang yang menyimpang dari agama, Carey," William Warr membantah, "tetapi mereka berkhotbah dari Alkitab. Itulah yang penting."
Carey berbantah-bantah dengan temannya selama beberapa bulan sebelum akhirnya ia menyerah dan menghadiri suatu kebaktian di Gereja Pelarian itu. Setelah pergi beberapa kali, ia harus mengakui bahwa Pelarian-Pelarian itu sungguh berkhotbah dari Alkitab. "Aku akan pergi ke gereja tiga kali pada hari Minggu dan menghentikan dusta dan sumpah serapahku," ia memutuskan.
Kemudian, negeri Inggris tiba-tiba terlibat perang dengan Perancis dan Spanyol. Armada musuh bergerak memasuki Selat Inggris dan mengancam akan menyerbu. Raja Inggris, George, menyatakan bahwa tanggal 10 Februari 1779 merupakan hari nasional untuk berpuasa dan berdoa. Pada hari itu, Carey ikut bersama para Pelarian dalam suatu kebaktian istimewa.
Pendeta Thomas Chater memimpin kelompok itu dalam doa, lalu ia berbicara tentang celaan yang mereka alami jika menjadi pengikut Kristus. Carey melaporkan kemudian, "Aku merasa hancur dan tak berdaya. Aku ingin mengikut Kristus."
Lalu, ia sungguh menjadi pengikut Kristus! Setelah pengalaman kelahiran barunya, Carey tidak jemu-jemunya belajar mengenai Alkitab. Ia mulai mempelajari bahasa Yunani dan bahasa Ibrani, dan setiap renungan pagi, ia membaca sebagian dari Alkitab dalam tiga bahasa - Ibrani, Yunani, dan Latin.
Setelah majikannya meninggal, Carey membuka toko sepatu miliknya sendiri. Ia menikah dan membuka sebuah sekolah pada malam hari bagi anak-anak di desanya. Ia menggunakan bola dunia yang terbuat dari kulit kasar untuk memperlihatkan kepada anak-anak, tempat-tempat yang telah ditempuh para penjelajah seperti Columbus itu; dan sering kali, setelah murid-muridnya pulang, ia duduk membaca Alkitab sampai jauh malam sambil merenungkan berjuta-juta orang kafir di negeri-negeri lain. Ia menulis petanya dengan segala yang diketahuinya tentang agama tiap-tiap bangsa di dunia.
Pada tanggal 10 Agustus tahun 1786, tukang sepatu yang bersemangat itu ditahbiskan menjadi pendeta Baptis. Beberapa minggu setelah itu, ia menghadiri suatu pertemuan pendeta-pendeta di Northampton. Salah seorang dari pendeta-pendeta yang tua mengusulkan agar seseorang menyebutkan suatu pokok pembicaraan untuk diskusi umum. Carey bangkit serta mengemukakan masalah tentang "Apakah Amanat Agung itu berlaku bagi kita sekarang ini untuk pergi dan mengajar segala bangsa itu atau tidak?"
Pendeta-pendeta itu menjadi terdiam. Lalu, ketua pertemuan melihat kepada Carey dengan pedas. "Duduklah, anak muda. Apabila Allah berkenan memenangkan orang-orang kafir, Ia akan melakukannya tanpa pertolonganmu atau pertolonganku." Namun, Carey tidak mudah disuruh diam begitu saja.
Pada tanggal 30 Mei tahun 1792, ia menyampaikan sebuah khotbah yang bersejarah pada Persekutuan Pendeta-Pendeta Baptis di Notingham. Ia mengajukan dua buah pertanyaan yang patut dikenang: "Mengharapkan perkara-perkara yang besar dari Allah. Mengusahakan perkara-perkara yang besar bagi Allah." Pagi berikutnya, ia mengusulkan untuk membentuk suatu perkumpulan pengabar Injil. Empat bulan kemudian, perkumpulan itu terbentuk, Carey dan keluarganya berlayar ke India sebagai utusan Injil dari perkumpulan yang baru itu.
Di sana, Carey yang gigih itu mengikuti karier utusan Injil yang lama dan termasyur itu, yang sering kali dirusak oleh tragedi. Istrinya dan seorang utusan Injil, temannya, menjadi terganggu kesehatan jiwanya dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Utusan-utusan Injil yang lain meninggal karena terkena penyakit yang biasa berjangkit di Asia. Setelah tujuh tahun lamanya di sana, barulah Carey membaptiskan orang yang bertobat pertama kali.
Namun, selama kariernya sebagai utusan Injil, tukang sepatu yang percaya dalam mengharapkan perkara-perkara yang besar dari Allah dan mengusahakan hal-hal yang besar untuk Allah itu menerjemahkan seluruh Alkitab ke dalam empat bahasa terkemuka di India, serta menyebabkan Alkitab dapat dibaca oleh tiga ratus juta orang dalam bahasa mereka sendiri. Selain itu, ia adalah tokoh utama dalam pendirian 126 sekolah misi.
Bahkan, yang lebih penting yaitu bahwa ia mencetuskan gerakan-gerakan utusan Injil di Inggris dan Amerika. Kini, Carey dengan tepat disebut sebagai bapak serta pelopor gerakan utusan Injil modern.
Pada saat meninggal, perintis utusan Injil yang besar itu berbisik, "Kalau saya sudah tiada, jangan katakan apa-apa tentang Dr. Carey. Berbicaralah tentang Juru Selamat."
senyum dulu ..........
Kitab apa yang ada sayurnya: KOL…ose
Kitab apa yang ada buahnya: fi…LEMON
Kitab apa yang paling kuat: o…BAJA
Kitab apa yang nggak pernah takut: i…BRANI
Kitab apa yang selalu setuju: YA…kobus
Kitab apa yang enak dimakan: ROMA
Kitab apa yang pakai nama Jawa: Mas…MUR
Kitab apa yang selalu dingin: ES…ter
Kitab apa yang nggak pernah menolak: YES..aya
Kitab apa yang paling berkuasa: RAJA-RAJA
Kitab apa yang gak ada rasanya: TAWAR…ikh
Kitab apa yang jadi tempat make-up: te…SALON…ika
Yang tersenyum pasti suka baca Alkitab!!!
Kitab apa yang ada buahnya: fi…LEMON
Kitab apa yang paling kuat: o…BAJA
Kitab apa yang nggak pernah takut: i…BRANI
Kitab apa yang selalu setuju: YA…kobus
Kitab apa yang enak dimakan: ROMA
Kitab apa yang pakai nama Jawa: Mas…MUR
Kitab apa yang selalu dingin: ES…ter
Kitab apa yang nggak pernah menolak: YES..aya
Kitab apa yang paling berkuasa: RAJA-RAJA
Kitab apa yang gak ada rasanya: TAWAR…ikh
Kitab apa yang jadi tempat make-up: te…SALON…ika
Yang tersenyum pasti suka baca Alkitab!!!
Pelukan Daniel
Yang penting bukan SEBERAPA LAMA KITA HIDUP, tetapi yang penting adalah SEBERAPA BERGUNANYA KITA BAGI SESAMA SELAMA KITA HIDUP.
"Kita Putus...!"
Masih terngiang di telingaku kalimat yang diucapkan Agnes dua jam yang lalu. Aku hanya diam membisu. Seolah ada sesuatu yang tajam menusuk kedalam hatiku.
"Kamu ngga kayak cowok teman-temanku yang lain. Kalau mau dibandingkan kayak langit dan bumi deh. Semuanya pada cerita tentang kehebatan dan kelebihan pacar mereka, sedangkan aku? Aku ngga tau harus ngomong apa!"
Aku memilih diam dan mendengarkan alasannya memutuskan hubungan kami yang sudah berjalan 2 tahun. Tepatnya hari ini kami 2 tahun jadian.
"Masa hari gini dia ngga punya Blackberry? Yang ada hanya HP butut nan tua. Yang bisa untuk sms dan telpon doang. Sedangkan pacar teman-teman aku, jangankan BB, Iphon pun punya. Trus kamu ngga pernah jemput aku. Jangankan pake mobil, sepeda aja ngga punya, apalagi motor? Kemana-mana naek angkot. Duh...padahal Jakarta kan panas dan berdebu dimana-mana. Coba liat tuh, cowok nya si Ririn, mau naik mobil apa aja bisa. Tinggal pilih yang ada di garasi rumahnya. Sopir ngga cuma satu, tapi lebih. Kemana aja pasti dianterin. Sementara kamu? Jauh banget..."
Aku mencoba menahan rasa sakit tersebut.
"Kamu tidak pernah ajak aku makan di cafe atau di restoran yang berkelas gitu. Yang ada minum es teh dan makan bubur di pinggir jalan. Kan kalo teman-teman aku liat bisa gengsi aku. Malu-maluin bangat."
Hatiku hanya berbisik, "Jadi selama ini kamu malu kalo aku ajak kamu makan dipinggir jalan?"
"Kamu ngga pernah ngasih aku kado atau sesuatu yang "mahal" gitu. Coba si Keisha yang baru jadian satu bulan ama si Tio, pake liontin emas putih. Sedangkan aku? Mimpi kali yee..."
Akhirnya bibirkupun mengelurkan kalimat "Maaf, kalau selama kita jadian aku tidak bisa seperti pacar teman-teman kamu. Terima kasih kalau kamu pernah hadir dalam hidupku. Seharusnya dari awal kamu tau kalau aku hanya anak yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa."
Detik berikutnya aku hanya melihat punggung Agnes meninggalkanku. Meninggalkan sebuah luka dihatiku.
"Ko Tara...!" teriak Daniel menyambut kedatanganku. Sebuah pelukan hangat membalut tubuhku. Sambutan Daniel menjadi obat sakit di hatiku. Aku membalas pelukannya. Detik berikutnya air mataku jatuh tak tertahan. Aku tidak pernah menyesal terlahir dikeluarga yang miskin. Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan ketika aku harus kehilangan kedua orang tua ku 5 tahun yang lalu. Waktu mereka pergi untuk selama-lamanya, Daniel baru berusia 2 tahun. Beruntung waktu itu aku baru saja menyelesaikan bangku SMA. Aku harus membesarkan Daniel sendiri dengan hasil uang yang aku dapat dari menjadi seorang Fotografer dan usaha Wedding Organizer yang aku rintis.
"Kamu sudah makan?" tanyaku sambil menatap wajah Daniel.
"Aku nunggu koko. Aku mau makan dengan koko"
Aku memperhatikan wajah Daniel. Pucat. Sementara ada tanda bercak darah pada kulitnya yang putih.
"Kamu ngga kenapa-napa kan Dan?" tanyaku dengan penuh kekhawatiran.
"Koko, Daniel sehat-sehat saja! Cuma tadi sempat mimisan"
Aku terkejut mendengar jawaban Daniel.
"Selesai makan, nanti kita ke dokter ya?"
"Daniel takut di suntik"
"Kamu ngga usah takut. Kan ada koko! Di suntik cuma kayak digigit semut merah"
"Ya udah! Tapi aku ditemanin sama koko ya?"
Aku menganggukkan kepala tanda setuju.
****
Daniel dirujuk ke bagian Anak di salah satu Rumah sakit di Jakarta. Di Rumah Sakit itu sumsum tulang belakangnya diambil. Ternyata trombositnya rendah, sedangkan sel darah putih berlebihan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan, ia positif terjangkit Leukimia dan harus menjalani pengobatan selama 2 tahun.
Pada 3 bulan pertama, Daniel di kemoterapi dan diberi obat antikanker (stitostika). Setiap kali mendapat pengobatan, ia muntah, nyeri pada sendi dan rambut rontok. Sel kanker pun menjalar ke bagian otak. Harapan untuk sembuh kian tipis.
"Koko, Daniel sayang koko!" Ucap Daniel ketika memelukku di atas ranjangnya.
"Koko juga sayang Daniel. Tuhan pasti sembuhkan kamu!" Aku mencoba menghiburnya. Setiap hari aku meyakinkannya, kalau dia pasti sembuh.
"Besok Daniel sudah bisa pulang."
Mungkin itu berita gembira buat Daniel. Tapi bagiku tidak! Uang tabunganku sudah habis untuk membiayai pengobatan Daniel. Dua hari yang lalu aku terpaksa menjual kameraku untuk menutupi biaya yang belum aku lunasi. Daniel tidak akan mendapatkan terapi lagi.
"Daniel malu!"
"Malu kenapa sayang?"
"Kepala Daniel botak"
"Tapi koko ngga pernah malu punya adik yang kepalanya botak"
"Koko, minggu depan Daniel ultah yang ke-8 loh!"
Aku menatap Daniel.
"Koko ingat kok. Daniel mau kado apa?"
Daniel berpikir sejenak
"Daniel cuma mau sembuh. Daniel ngga mau kado apa-apa"
"Serius? Daniel suka SpongeBob kan?"
"Suka bangat!"
"Mau ngga kalau koko kasih boneka SpongeBob?"
"Mau!" sahut Daniel dengan semangat.
****
Aku berdiri terpaku mendengar suara merdu Daniel. Hari ini aku membawa Daniel ke Gereja. Aku tidak menyangka kalau dia akan maju ke altar dengan kursi rodanya dan menyanyikan sebuah pujian.
Tak terbatas kuasa-Mu Tuhan
Semua dapat Kau lakukan
Apa yang kelihatan mustahil bagiku
Itu sangat mungkin bagi-Mu
Disaat ku tak berdaya
Kuasa-Mu yang sempurna
Ketika ku percaya
Mujizat itu nyata
Bukan karena kekuatan
Namun Roh-Mu ya Tuhan
Ketika ku berdoa
Mujizat itu nyata
Bridge:
Mujizat itu dekat dimulutku
dan ku hidup oleh percaya.
Aku melihat beberapa jemaat meneteskan air mata.
"Kalau Daniel masih bisa hidup hari ini, itu semua karena mujizat dari Tuhan Yesus. Terima kasih untuk koko Dewantara yang selama ini membesarkan Daniel sendiri. Daniel janji, Daniel ngga akan nakal! Daniel sayang koko!" Tutur Daniel setelah mengakhiri pujiannya.
****
"Koko, kenapa nangis?" tanya Daniel dengan lemah.
Hari ini keadaan Daniel kritis. Terpaksa aku membawa ke Rumah Sakit.
Aku menghapus air mataku.
"Tuhan Sembuhkan atau tidak, bagi Daniel Tuhan tetap baik!"
Aku menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapannya.
"Koko, terima kasih buat kado boneka SpongeBob nya ya...!"
"Sama-sama sayang"
Daniel mengambil sesuatu di balik bantalnya. Lalu dia melihatnya dengan lemah. Foto kedua orang tua ku bersama aku dan Daniel yang masih bayi.
"Koko, maafin Daniel ya kalau selama ini Daniel nakal dan repotin koko. Nanti kalau Daniel ke surga, daniel akan cari mama dan papa. Koko ngga usah khawatir lagi."
Aku memeluk Daniel. "Ya, Tuhan! Aku belum siap kehilangan Daniel!"
Dengan pelan Daniel mengucapkan sebait doa sambil memeluk boneka SpongeBob nya.
Tuhan...
Aku lapar! Sangat lapar!
Tapi aku tidak ingin meminta makanan.
Aku hanya minta berkati mereka yang kelaparan seperti aku.
Tuhan...
Aku sakit. Sangat sakit.
Tapi aku tidak meminta kesembuhan.
Aku hanya meminta, sembuhkan mereka yang sakit sepertiku.
Tuhan...
Aku tidak ingin mujizat-Mu
Meski aku tahu, Engkau sanggup melakukannya.
Aku hanya minta tunjukkan mujizat-Mu kepada meraka yang tidak mempercayai-Mu.
Tuhan...
Kalau nanti aku meninggal
Aku tak ingin ada yang menangis.
Tapi aku ingin mereka tersenyum, tersenyum karena aku bertahan hingga akhirnya.
Tuhan...
Malam ini, aku tidak minta apa-apa untuk diriku
Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga
Karena aku tahu, bersama-Mu semuanya akan Engkau berikan.
Amin.
Detik berikutnya, Daniel menatapku dengan lembut dan lemah. Perlahan-lahan matanya tertutup rapat. Air mataku jatuh berderai tak tertahan.
All Glory to JESUS,
"Kita Putus...!"
Masih terngiang di telingaku kalimat yang diucapkan Agnes dua jam yang lalu. Aku hanya diam membisu. Seolah ada sesuatu yang tajam menusuk kedalam hatiku.
"Kamu ngga kayak cowok teman-temanku yang lain. Kalau mau dibandingkan kayak langit dan bumi deh. Semuanya pada cerita tentang kehebatan dan kelebihan pacar mereka, sedangkan aku? Aku ngga tau harus ngomong apa!"
Aku memilih diam dan mendengarkan alasannya memutuskan hubungan kami yang sudah berjalan 2 tahun. Tepatnya hari ini kami 2 tahun jadian.
"Masa hari gini dia ngga punya Blackberry? Yang ada hanya HP butut nan tua. Yang bisa untuk sms dan telpon doang. Sedangkan pacar teman-teman aku, jangankan BB, Iphon pun punya. Trus kamu ngga pernah jemput aku. Jangankan pake mobil, sepeda aja ngga punya, apalagi motor? Kemana-mana naek angkot. Duh...padahal Jakarta kan panas dan berdebu dimana-mana. Coba liat tuh, cowok nya si Ririn, mau naik mobil apa aja bisa. Tinggal pilih yang ada di garasi rumahnya. Sopir ngga cuma satu, tapi lebih. Kemana aja pasti dianterin. Sementara kamu? Jauh banget..."
Aku mencoba menahan rasa sakit tersebut.
"Kamu tidak pernah ajak aku makan di cafe atau di restoran yang berkelas gitu. Yang ada minum es teh dan makan bubur di pinggir jalan. Kan kalo teman-teman aku liat bisa gengsi aku. Malu-maluin bangat."
Hatiku hanya berbisik, "Jadi selama ini kamu malu kalo aku ajak kamu makan dipinggir jalan?"
"Kamu ngga pernah ngasih aku kado atau sesuatu yang "mahal" gitu. Coba si Keisha yang baru jadian satu bulan ama si Tio, pake liontin emas putih. Sedangkan aku? Mimpi kali yee..."
Akhirnya bibirkupun mengelurkan kalimat "Maaf, kalau selama kita jadian aku tidak bisa seperti pacar teman-teman kamu. Terima kasih kalau kamu pernah hadir dalam hidupku. Seharusnya dari awal kamu tau kalau aku hanya anak yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa."
Detik berikutnya aku hanya melihat punggung Agnes meninggalkanku. Meninggalkan sebuah luka dihatiku.
"Ko Tara...!" teriak Daniel menyambut kedatanganku. Sebuah pelukan hangat membalut tubuhku. Sambutan Daniel menjadi obat sakit di hatiku. Aku membalas pelukannya. Detik berikutnya air mataku jatuh tak tertahan. Aku tidak pernah menyesal terlahir dikeluarga yang miskin. Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan ketika aku harus kehilangan kedua orang tua ku 5 tahun yang lalu. Waktu mereka pergi untuk selama-lamanya, Daniel baru berusia 2 tahun. Beruntung waktu itu aku baru saja menyelesaikan bangku SMA. Aku harus membesarkan Daniel sendiri dengan hasil uang yang aku dapat dari menjadi seorang Fotografer dan usaha Wedding Organizer yang aku rintis.
"Kamu sudah makan?" tanyaku sambil menatap wajah Daniel.
"Aku nunggu koko. Aku mau makan dengan koko"
Aku memperhatikan wajah Daniel. Pucat. Sementara ada tanda bercak darah pada kulitnya yang putih.
"Kamu ngga kenapa-napa kan Dan?" tanyaku dengan penuh kekhawatiran.
"Koko, Daniel sehat-sehat saja! Cuma tadi sempat mimisan"
Aku terkejut mendengar jawaban Daniel.
"Selesai makan, nanti kita ke dokter ya?"
"Daniel takut di suntik"
"Kamu ngga usah takut. Kan ada koko! Di suntik cuma kayak digigit semut merah"
"Ya udah! Tapi aku ditemanin sama koko ya?"
Aku menganggukkan kepala tanda setuju.
****
Daniel dirujuk ke bagian Anak di salah satu Rumah sakit di Jakarta. Di Rumah Sakit itu sumsum tulang belakangnya diambil. Ternyata trombositnya rendah, sedangkan sel darah putih berlebihan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan, ia positif terjangkit Leukimia dan harus menjalani pengobatan selama 2 tahun.
Pada 3 bulan pertama, Daniel di kemoterapi dan diberi obat antikanker (stitostika). Setiap kali mendapat pengobatan, ia muntah, nyeri pada sendi dan rambut rontok. Sel kanker pun menjalar ke bagian otak. Harapan untuk sembuh kian tipis.
"Koko, Daniel sayang koko!" Ucap Daniel ketika memelukku di atas ranjangnya.
"Koko juga sayang Daniel. Tuhan pasti sembuhkan kamu!" Aku mencoba menghiburnya. Setiap hari aku meyakinkannya, kalau dia pasti sembuh.
"Besok Daniel sudah bisa pulang."
Mungkin itu berita gembira buat Daniel. Tapi bagiku tidak! Uang tabunganku sudah habis untuk membiayai pengobatan Daniel. Dua hari yang lalu aku terpaksa menjual kameraku untuk menutupi biaya yang belum aku lunasi. Daniel tidak akan mendapatkan terapi lagi.
"Daniel malu!"
"Malu kenapa sayang?"
"Kepala Daniel botak"
"Tapi koko ngga pernah malu punya adik yang kepalanya botak"
"Koko, minggu depan Daniel ultah yang ke-8 loh!"
Aku menatap Daniel.
"Koko ingat kok. Daniel mau kado apa?"
Daniel berpikir sejenak
"Daniel cuma mau sembuh. Daniel ngga mau kado apa-apa"
"Serius? Daniel suka SpongeBob kan?"
"Suka bangat!"
"Mau ngga kalau koko kasih boneka SpongeBob?"
"Mau!" sahut Daniel dengan semangat.
****
Aku berdiri terpaku mendengar suara merdu Daniel. Hari ini aku membawa Daniel ke Gereja. Aku tidak menyangka kalau dia akan maju ke altar dengan kursi rodanya dan menyanyikan sebuah pujian.
Tak terbatas kuasa-Mu Tuhan
Semua dapat Kau lakukan
Apa yang kelihatan mustahil bagiku
Itu sangat mungkin bagi-Mu
Disaat ku tak berdaya
Kuasa-Mu yang sempurna
Ketika ku percaya
Mujizat itu nyata
Bukan karena kekuatan
Namun Roh-Mu ya Tuhan
Ketika ku berdoa
Mujizat itu nyata
Bridge:
Mujizat itu dekat dimulutku
dan ku hidup oleh percaya.
Aku melihat beberapa jemaat meneteskan air mata.
"Kalau Daniel masih bisa hidup hari ini, itu semua karena mujizat dari Tuhan Yesus. Terima kasih untuk koko Dewantara yang selama ini membesarkan Daniel sendiri. Daniel janji, Daniel ngga akan nakal! Daniel sayang koko!" Tutur Daniel setelah mengakhiri pujiannya.
****
"Koko, kenapa nangis?" tanya Daniel dengan lemah.
Hari ini keadaan Daniel kritis. Terpaksa aku membawa ke Rumah Sakit.
Aku menghapus air mataku.
"Tuhan Sembuhkan atau tidak, bagi Daniel Tuhan tetap baik!"
Aku menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapannya.
"Koko, terima kasih buat kado boneka SpongeBob nya ya...!"
"Sama-sama sayang"
Daniel mengambil sesuatu di balik bantalnya. Lalu dia melihatnya dengan lemah. Foto kedua orang tua ku bersama aku dan Daniel yang masih bayi.
"Koko, maafin Daniel ya kalau selama ini Daniel nakal dan repotin koko. Nanti kalau Daniel ke surga, daniel akan cari mama dan papa. Koko ngga usah khawatir lagi."
Aku memeluk Daniel. "Ya, Tuhan! Aku belum siap kehilangan Daniel!"
Dengan pelan Daniel mengucapkan sebait doa sambil memeluk boneka SpongeBob nya.
Tuhan...
Aku lapar! Sangat lapar!
Tapi aku tidak ingin meminta makanan.
Aku hanya minta berkati mereka yang kelaparan seperti aku.
Tuhan...
Aku sakit. Sangat sakit.
Tapi aku tidak meminta kesembuhan.
Aku hanya meminta, sembuhkan mereka yang sakit sepertiku.
Tuhan...
Aku tidak ingin mujizat-Mu
Meski aku tahu, Engkau sanggup melakukannya.
Aku hanya minta tunjukkan mujizat-Mu kepada meraka yang tidak mempercayai-Mu.
Tuhan...
Kalau nanti aku meninggal
Aku tak ingin ada yang menangis.
Tapi aku ingin mereka tersenyum, tersenyum karena aku bertahan hingga akhirnya.
Tuhan...
Malam ini, aku tidak minta apa-apa untuk diriku
Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga
Karena aku tahu, bersama-Mu semuanya akan Engkau berikan.
Amin.
Detik berikutnya, Daniel menatapku dengan lembut dan lemah. Perlahan-lahan matanya tertutup rapat. Air mataku jatuh berderai tak tertahan.
All Glory to JESUS,
Subscribe to:
Posts (Atom)
