Sekitar 28 tahun yang lalu, ada bencana besar yang terjadi di China dan
berlangsung selama 10 tahun. Selama jangka waktu tersebut, banyak orang
percaya di China dianiaya dan dibunuh. Orangtuaku termasuk diantaranya.
Oleh karena latar belakang kepercayaan orangtua, aku dianggap "black
child" dari keluarga revolusioner. Tidak ada seorang pun yang berani
memeliharaku. Aku tidak punya tempat tinggal dan mulai menjalani hidup
mandiri pada saat berusia 9 tahun. Sejak itu, untuk mendapatkan uang,
aku menolong orang untuk mendorong kereta-kereta mereka. Malam harinya,
aku tidur di jalanan. Saat itu sedang musim hujan dan salju, tidak
seorang pun bekerja di luar dan aku tidak punya mata pencaharian. Lapar
dan dingin menjadi bagian dari hidupku sehari-hari.
Satu setengah tahun kemudian, aku bertemu dengan seseorang yang berusia
lebih dari 50 tahun. Aku memanggil dia paman Shen. Dia seorang Kristen
yang taat. Ketika tahu bahwa aku tuna wisma, dia memutuskan untuk
merawat aku. Sebenarnya, paman Shen telah melarikan diri dari penjara
dan dia tidak memiliki keluarga. Dia bertanya apakah aku mau tinggal
dengannya. Aku setuju karena aku tahu dia seorang yang baik.
Paman Shen memutuskan untuk pergi ke bagian barat laut China karena dia
berpikir keadaan di sana jauh lebih aman. Kebanyakan tempat di bagian
tersebut sangatlah miskin. Sebagian besar penduduk di wilayah pedesaan
tidak berpendidikan. Mereka tidak dapat membaca ataupun memperbaiki
mesin-mesin yang mereka miliki, Paman Shen adalah seorang ahli mekanik,
jadi dia pergi ke banyak wilayah untuk memperbaiki mesin-mesin para
petani. Dia mendapatkan makanan dan penginapan sebagai gantinya. Karena
tidak ada banyak mesin di satu wilayah, maka kami sering
berpindah-pindah tempat agar dapat terus bekerja. Jika tidak demikian,
kami tidak dapat bertahan hidup.
Suatu hari, di penghujung bulan Desember 1970, kita sama sekali tidak
punya pekerjaan. Paman Shen memutuskan untuk mencari kerja di tempat
lain. Kami berada di wilayah yang termiskin di China dan bermalam di
gubuk yang biasa disebut "Grand Horsecart Inn." Suara- suara binatang
membuat aku terjaga dan secara tidak sadar terlintas di pikiran tentang
orangtuaku. Peristiwa saat mereka ditangkap terbayang lagi; ayahku
diikat dan dipukuli berkali-kali sampai dia tidak dapat berdiri lagi ...
sedangkan ibu dipaksa untuk berlutut, rambutnya dicukur habis dan
wajahnya dilumuri dengan tinta hitam. Saat memikirkan mereka, aku
bertanya pada diri sendiri, "Dimanakah mereka saat ini? Apakah mereka
sudah meninggal? Apakah aku dapat melihat mereka lagi?" Aku tidak dapat
menahan kepedihan dan airmata yang membanjiri wajahku.
Aku tidak sadar kalau paman Shen juga terjaga, dan dia mendengar isakan
tangisku. Dengan lembut dia meraih tanganku dan mencoba menghiburku.
Kami duduk di tumpukan jerami kering tanpa bicara sepatah katapun.
Beberapa saat kemudian, ketika melihat airmata yang mulai mengering,
dengan suara lembut paman Shen bertanya, "Apakah kamu masih mengantuk?"
Aku dengan tegas menjawab, "Tidak, aku tidak mengantuk sama sekali."
"Tahukah kamu, hari apakah ini?" tanya paman Shen. "Tidak secara pasti.
Setahu aku, ini adalah minggu terakhir di tahun ini."
Paman Shen lalu berkata, "Hari ini adalah tanggal 25 Desember, hari
Natal. Hari ini kita merayakan kelahiran Yesus. Tetapi, tahukah kamu
bagaimana penderitaan yang dialami Yesus sebelum Dia disalibkan?"
Paman Shen berbicara seakan-akan tahu bahwa aku sedang memikirkan
tentang bagaimana penderitaan yang dialami orangtuaku sebelum mereka
ditangkap dan dibawa pergi entah ke mana. Paman Shen mengutip ayat- ayat
dalam Injil Matius 27:28-30, 'Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan
mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri
dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di
tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan
mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" Mereka
meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.'
Saat paman Shen mengucapkan ayat-ayat tersebut, hatiku tersentak.
Melalui penderitaan yang dialami orangtuaku, aku mencoba membayangkan
bagaimana penderitaan yang dialami Yesus, Allahku, sebelum Dia disalib
dan bagaimana kematian-Nya. Paman Shen melanjutkan kutipan ayatnya, "
...tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan
tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air." (Yohanes 19:34)
Saat itu juga, seolah-olah hati aku merasakan kepedihan itu dan aku
berkata dalam hati, "Yesus, ALLAH yang disembah orangtuaku dan paman
Shen, adalah Allahku juga."
Hari masih subuh saat itu, keadaan masih sepi dan dingin. Terhanyut oleh
suasana saat itu, aku tidak tahu secara pasti kapan paman Shen mulai
menyanyikan sebuah lagu, "Malam Kudus, sunyi senyap. Bintang- Mu
gemerlap. Juruselamat manusia, telah datang ke dunia ..."
Sejak saat itu, 20 tahun telah berlalu. Namun, aku masih merasa seperti
hari kemarin. Aku masih dapat merasakan kehadiran paman Shen di
sampingku dan mendengar nyanyiannya. Aku masih ingat dan mendengar paman
Shen menceritakan tentang kelahiran Yesus: Yusuf dan Maria pergi ke
Betlehem dari Nazareth untuk mendaftarkan diri. Mereka melakukan
perjalanan sejauh 100 mil, yang sangat sulit bagi mereka karena Maria
sedang mengandung. Malam itu, Yesus lahir di sebuah kandang, sama
seperti "Grand Horsecart Inn" tempat dimana aku dan paman Shen bermalam
saat itu. Di kandang yang dingin itu, palungan adalah satu-satunya
tempat bagi bayi Yesus. Pada malam yang dingin itulah Tuhan Yesus datang
ke dunia ini dan memulai kehidupan- Nya sebagai Anak Allah. Pada malam
itu, di sebuah tempat yang bersahaja, Tuhan Yesus telah lahir. Tempat
yang tidak terlalu jauh dari Golgota, dimana 33 tahun kemudian Dia
dipakukan di atas kayu salib.
Di malam yang dingin, beribu tahun yang lalu, tidak ada Santa Claus,
tidak ada lampu-lampu gemerlap, tidak ada pohon Natal, tidak ada
pertemuan keluarga ... malam yang dingin ... malam yang kudus!
No comments:
Post a Comment