Thursday, 30 July 2015

Tetap Rendah hati


Andai kata gula pasir bisa ngomong,
pemanis alami yang bernama Gula Pasir akan membandingkan dirinya dengan temannya yang bernama Sirup.
Masalahnya sederhana,
Gula Pasir mengetahui kalo selama ini dirinya tidak dihargai.
Manusia memanfaatkannya,
tapi melupakan begitu saja.
Gula Pasir sudah mengorbankan diri untuk memaniskan air teh,
tapi manusia tidak menyebut dirinya.
Manusia hanya menyebut Teh Manis (bukan teh gula).
Demikian pula ketika Gula dicampur dengan air kopi,
tak ada yg menyebut Kopi gula pasir,
tapi Kopi Manis.
Gula Pasir hanya disebut ketika manusia membutuhkannya,
setelah itu tak ada lagi penghargaan untuknya.

Berbeda dengan Sirup,
dari segi Eksistensinya.
Sirup tidak hilang ketika di campur dgn air + es.
Manusia akan menyebut Es Sirup (bukan Es manis),
bahkan sebutannya sering di ikuti dgn jati diri yg lebih lengkap, seperti :
'Es Sirup Lemon', 'Es Sirup Mangga', dll.
Sadar atau tidak,
seringkali ada keinginan manusia untuk diakui, dihargai, bahkan di sebut namanya sebagai yg paling berjasa.
Dalam keseharian, kerap kali kita menemukan orang tertentu seperti Gula.
Banyak orang yg berjasa bagi yg lain, tapi tidak terlihat, tidak mendapatkan apresiasi yg layak, malahan lebih ekstrem, hanya di anggap sebagai pelengkap,bahkan dicibir & kadang-kadang diremehkan.
Tapi tidak mengapa Gula Pasir akan tetap bagaikan Mutiara yang memancarkan Cahaya Kemanisan (ketulusan hati) ke seluruh penjuru, guna Membahagiakan orang banyak.

TERUSLAH BERBUAT KEBAJIKAN DENGAN TULUS. (SEPERTI GULA PASIR),
HASIL KEBAJIKAN AKAN SEMAKIN BERKUALITAS KETIKA TETAP TERSEMBUNYI.

”Biarlah berakhir kejahatan orang fasik,
tetapi teguhkanlah orang yang benar,
Engkau, yang menguji hati dan batin orang,
ya Allah yang adil.
Perisai bagiku adalah Allah,
yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati.”
(Mazmur 7:10-11)
Gbu

No comments:

Post a Comment